Malam itu sunyi terasa lebih berat dari biasa.
Aku duduk di tepi tingkap, memandang langit yang kelam tanpa bintang. Dalam dadaAku, kosong... seolah sesuatu hilang, tapi aku sendiri tak tahu apa.
Hari-hariAku berlalu tanpa arah. Senyum hanya pada wajah, tapi hatiAku jauh tertinggal entah di mana. Aku cuba mengisi kekosongan dengan bunyi, dengan manusia, dengan kesibukan… tapi sunyi tetap kembali.
Suatu petang, Aku berjalan tanpa tujuan hingga tiba di hujung hutan kecil di pinggir kampung. Angin berhembus lembut, daun berbisik perlahan. Buat pertama kali, Aku berhenti betul-betul berhenti.
“Kenapa aku lari?” bisikAku pada diri sendiri.
Dalam diam, Aku dengar sesuatu yang lama Aku abaikan degup hatiAku sendiri. Perlahan, tapi ada. Lemah, tapi hidup.
Aku duduk di atas tanah, menyentuh rumput yang dingin. Alam seakan memelukAku tanpa kata. Dalam sunyi itu, Aku tidak lagi merasa kosong… cuma tenang.
Air mata jatuh tanpa sedar.
“Mungkin aku tak hilang,” kataAku perlahan. “Aku cuma jauh… dari yang satu.”
Sejak hari itu, Aku mula belajar kembali mendengar hati, menghargai sunyi, dan melihat alam sebagai tanda, bukan sekadar pemandangan.
Dan dalam setiap langkah kecilAku pulang, Aku sedar..
kekuatan bukan datang dari luar, tapi dari kembali kepada sumber yang sama… Yang Esa.
This site uses cookies to deliver our services and to show you relevant ads and job listings.
By using our site, you acknowledge that you have read and understand our Cookie Policy,
Privacy Policy, and our Terms of Service. Your use of our Products and Services,
including our Network, is subject to these policies and terms.