JUDUL : DI BALIK LAPISAN KULIT
Genre: EDM / Dutch House / Malaysia Remix / Religious Satire
(Intro - High Energy)
(Voice-over - Echo):
"Ini bukan lagu pesta... ini lagu untuk kau yang lupa."
"Buka mata... buka telinga!"
"Tak gila wanita... Tak gila daging... Let’s go!"
(Drop Beat: Jedag-jedug khas Malaysia Remix)
(Verse 1 - Fast Flow)
Langkah tegap tapi jiwa kau merangkak
Kejar dunia sampai imanmu tercampak
Kau puja wajah, kau puja itu raga
Padahal besok semua jadi bangkai tak berharga!
Barang branded kau pakai biar dipandang raja
Padahal di liang lahat kau cuma hamba yang bersahaja
Stop! Jangan mau dijinakkan nafsu
Dunia ini indah, tapi semuanya palsu!
(Pre-Chorus - Rising Tension)
(Tempo makin cepat, suara drum makin rapat)
Satu detik kau merasa paling jagoan...
Satu detik kemudian, kau cuma tumpukan tulang!
Ingat... ingat... maut tak pernah booking waktu!
(Main Drop - The Peak)
(Bass berat berdentum - Melodi Synth Melengking)
TAK GILA WANITA! (Bass Drop!)
TAK GILA DAGING! (Bass Drop!)
Hanya secuil bongkahan fana...
Haus dunia... takkan pernah reda!
Remix... Jom!
(Verse 2 - Gritty Voice)
Wanita kau jadikan sekadar barang pajangan
Kau obral harga diri demi sebuah pengakuan
Filter kamera menipu, kau anggap itu kemajuan
Padahal itu tanda... kau sedang dalam kehancuran!
Ingatlah... kain kafan tak ada saku harta
Jangan sampai kau mati... saat sedang berbuat nista!
(Bridge - Breakdown / Slow Atmospheric)
(Musik berhenti tiba-tiba, hanya sisa pad yang merinding)
Apa yang kau banggakan?
Daging ini akan luruh...
Tulang ini akan patah...
Hanya amalmu yang menemanimu di tanah yang basah.
(Suara bisikan): "Masih mau gila dunia?"
(Final Drop - Maximum Energy)
TAK GILA WANITA!
TAK GILA DAGING!
Hanya secuil bongkahan fana...
Haus dunia... takkan pernah reda!
Outro... Go!
(Outro)
(Beat perlahan memudar dengan suara statis)
"Dunia ini cuma tempat singgah... jangan buat rumah di sini."
"Sadar... sebelum nafasmu berhenti."
"Berapa banyak nyawa yang kau gadaikan... hanya untuk sebuah ilusi?
Kau bilang itu cinta? Aku bilang itu hanya saraf yang terbakar.
Lihat lebih dalam... sebelum tanah menutup pandanganmu."
(Verse 1)
Langkah tegap, tapi jiwa merangkak di bawah nafsu
Pria sejati bukan dia yang memburu raga tanpa malu
Dunia menawarkan lekuk sebagai kiblat yang baru
Padahal di balik sutra, semua akan menjadi debu yang haru
Kau habiskan waktu, kau habiskan harta demi tatapan sesaat
Memuja wajah yang esok akan keriput dan berkarat
Kenapa kau biarkan dirimu jadi budak pada yang fana?
Sedangkan harga dirimu lebih mahal dari seluruh isi semesta.
(Pre-Chorus)
Satu detik kau merasa raja di atas ranjang dosa
Satu detik kemudian, jiwamu kosong tanpa sisa
Kau haus... tapi kau minum air garam dari samudera dunia.
(Chorus)
Tak gila wanita, karena tahu itu hanya ujian rupa
Tak gila daging, karena sadar itu hanya wadah yang lupa
Hanya secuil bongkahan yang akan membusuk di liang sunyi
Kenapa kau tukar keabadian dengan nikmat yang hanya bunyi?
Dunia ini fana, panggung sandiwara yang hampir usai
Jangan biarkan nuranimu hancur dan terburai.
(Verse 2)
Apa yang kau puja? Hanya susunan saraf, lemak, dan darah
Yang jika nyawa dicabut, ia tak lebih dari bangkai yang murah
Wanita bukan pajangan, bukan alat pelampas dahaga
Tapi kau jadikan mereka barang dagangan di pasar raga
Hargai dirimu, wahai lelaki yang sedang tersesat
Jangan mau dijinakkan oleh syahwat yang menjerat
Buka matamu, lihatlah melampaui pori-pori kulit
Sebab mencari tenang di dalam maksiat itu rumit dan pahit.
(Bridge)
(Musik melambat, suasana terasa dingin dan mencekam)
Tulangmu akan patah...
Dagingmu akan luruh...
Kulitmu akan menyatu dengan tanah yang keruh...
Lalu apa yang tersisa?
Hanya amal, ataukah tumpukan dosa yang membara?
(Chorus)
Tak gila wanita, karena tahu itu hanya ujian rupa
Tak gila daging, karena sadar itu hanya wadah yang lupa
Hanya secuil bongkahan yang akan membusuk di liang sunyi
Kenapa kau tukar keabadian dengan nikmat yang hanya bunyi?
Dunia ini fana, panggung sandiwara yang hampir usai
Jangan biarkan nuranimu hancur dan terburai.
(Outro)
(Suara hembusan angin yang panjang)
Pulanglah... sebelum pintu kembali terkunci rapat.
Raga ini hanya pinjaman.
Nafsu ini hanya ujian.
Jadilah pria yang memimpin jiwa, bukan yang diseret oleh raga.
(Sound: Suara langkah kaki yang berjalan menjauh dan pintu yang tertutup perlahan)
This site uses cookies to deliver our services and to show you relevant ads and job listings.
By using our site, you acknowledge that you have read and understand our Cookie Policy,
Privacy Policy, and our Terms of Service. Your use of our Products and Services,
including our Network, is subject to these policies and terms.